Sejakumur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Maryam87) "yang sudah janji kepada Allah SWT. Mereka tentunya sudah di talqin, diajari oleh Mursyid bacaan dzikir dari Allah melalui pelantara Mursyid yang masih hidup, amalan yang sempurna dapat ijazah dari Mursyid, memiliki mata rantai sampai ke Nabi Muhammad SAW. Mengikutitradisi keilmuan thoriqoh, murid-murid dari Syaikh Ma'ruf, Jenengan, dan Syaikh Idris, Kacangan, pun rata-rata melanjutkan bai'at dan suluk mereka kepada mursyid-mursyid thoriqoh Syadziliyyah lain yang saat ini masih hidup. Meski ada juga yang secara kasuistik justru mengibarkan bendera kemursyidan sendiri. Fast Money. THARIQAH Qudusiyah dibawa dan didirikan oleh Bapak Suprapto pada 15 Juli 1992. Sepeninggal beliau pada 13 Agustus 2011, mursyid thariqah ini adalah Bapak Zamzam A. J. Tanuwijaya. Berikut adalah biografi singkat kedua mursyid Thariqah Qudusiyah. Suprapto 1992 — 2011 Bapak Suprapto bin Kadis Darmosuharto, atau lebih dikenal dengan "Suprapto Kadis" oleh para muridnya, adalah seorang putera Jawa kelahiran Desa Karang Tawang, Cilacap, pada 13 April 1929 Masehi 4 Dzulqa’dah 1347 Hijriah. Saat duduk di bangku Shoto Chu Gakko SMP, Bapak Suprapto terlibat dalam perjuangan kemerdekaan melawan pendudukan Jepang. Beliau kembali masuk barisan Tentara Pelajar ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I 1948. Pasca pengakuan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI pada Agustus 1950, Bapak Suprapto melanjutkan pendidikan dengan beasiswa dari negara di Sekolah Teknik setara STM. Pendidikan tinggi sempat ditempuhnya selama dua tahun di Akademi Teknik Nasional di Jakarta, sebelum mendapatkan panggilan untuk mengajar di STM Cilacap dari tahun 1957 hingga 1962. Setelah itu Bapak Suprapto kembali ke Jakarta dan bekerja di Perusahaan Negara PN Peprida, dan turut terlibat dalam berbagai pembangunan proyek pemerintah di beberapa propinsi di Indonesia. Meletusnya peristiwa G-30S/PKI pada 30 September 1965, membuat berbagai proyek pemerintah terhenti. Setelah sempat diperbantukan sebagai Supervisor Listrik dalam pembangunan Gedung CONEFO sekarang Gedung DPR/MPR RI pada tahun 1966, Bapak Suprapto akhirnya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, keadaan sosial dan politik yang sulit pada masa itu membuat berbagai usahanya tidak berhasil. Di tengah-tengah kesulitan yang sedang dijalaninya, Bapak Suprapto memilih untuk kembali mempelajari agama, hingga pada 15 Juli 1968, menjelang usia 40 tahun, Bapak Suprapto dianugrahi Allah untuk mengenal qudrah-diri, sebagai guru atau mursyid yang membawa ajaran thariqah yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah. Ketika kondisi sosial dan politik di Indonesia berangsur-angsur membaik, pada tahun 1974 Bapak Suprapto bekerja di PT Krakatau Steel, Cilegon, yang beliau jalani hingga pensiun di tahun 1988. Baru setelah itu Bapak Suprapto membuka diri untuk membimbing para murid di jalan suluk. Bertepatan dengan usia 63 tahun, pada tahun 1992 Bapak Suprapto secara resmi membuka thariqah dan bertugas sebagai mursyid. Pada tahun 2008, Bapak Suprapto pindah ke Kota Bandung. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di kota tersebut hingga wafat pada tanggal 13 Agustus 2011 Masehi 13 Ramadhan 1432 Hijriah pada usia 82 tahun. Bapak Suprapto dimakamkan di kaki Gunung Mandalawangi, Desa Mandalasari, Kabupaten Bandung, wilayah Bandung Timur. Zamzam A. J. Tanuwijaya 2011 — Sekarang Bapak Zamzam A. J. Tanuwijaya adalah putera Sunda kelahiran Cimahi, Jawa Barat pada 16 Juli 1965 Masehi 17 Rabbiul Awwal 1385 Hijriah. Mengikuti tugas Ayahnya sebagai seorang dokter, pada tahun 1968-1971 Bapak Zamzam menghabiskan masa kecilnya di Cikajang, lalu pindah ke Garut dan menyelesaikan pendidikan SD serta SMP di kota ini. Pada tahun 1981, Beliau pindah ke Bandung untuk melanjutkan jenjang pendidikan SMA. Pendidikan tinggi ditempuh di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1985, dan hingga sekarang berprofesi sebagai dosen di perguruan tinggi tersebut. Sejak masa SMA, Bapak Zamzam tertarik membaca kitab-kitab karya Imam Al-Ghazali seperti Ihya Ulumuddin, Minhajul-Abidin, dan Misykatul-Anwar. Ketertarikannya kepada ajaran-ajaran sufistik sempat membawanya berkunjung ke Pesantren Al-Ghazali, Bogor, di bawah kepemimpinan Abdullah bin Nuh; dan Pesantren Gentur, Cianjur, yang diasuh oleh Abdulhaq Enoch. Hingga kemudian, saat masih duduk di bangku SMA, Zamzam muda bertemu dengan Bapak Suprapto. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Bapak Zamzam pun mengikuti proses inisiasi suluk melalui Bapak Suprapto pada tanggal 28 Juni 1991 15 Dzulhijjah 1411 Hijriah. Bapak Zamzam termasuk murid generasi awal Thariqah Qudusiyah. Sepeninggal Mursyid Suprapto, Bapak Zamzam menerima mandat ilahiyah untuk melanjutkan tugas kemursyidan di Thariqah Qudusiyah. Syaikh Utsman Al-Ishaqi Kiai Utsman yang masih keturunan Sunan Giri itu adalah murid kesayangan dan badal Romli Tamim ayah Musta’in, Rejoso, Jombang, salah satu sesepuh Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di negeri ini. Ia dibaiat sebagai mursyid bersama Kiai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri Mojosari Mojokerto. Sepeninggal Kiai Musta’in sekitar tahun 1977. Kiai Romli Tamim KH Muhammad Romli Tamim lahir pada tahun 1888 H. di Bangkalan Madura. disamping seorang mursyid, beliau juga kreatif dalam menulis kitab. Beliau wafat di Rejoso Peterongan Jombang pada tanggal 16 Ramadlan 1377 H atau tanggal 6 April 1958 M. Kiai Asrori Beliau memiliki nama panjang Asrori Al-Ishaqi. Sebagaimana dikutip dari beliau ulama Kedinding Lor, Surabaya yang lahir pada 17 Agustus 1951, dan wafat pada 18 Agustus 2009. Beliau mewarisi Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dari ayahnya, Kiai Usman Al-Ishaqi, Pengasuh Pesantren Al-Fithrah. Habib Luthfi Beliau lahir di Pekalongan pada 10 November 1947 M yang bertepatan dengan 27 Rajab 1367 H, sebagaimana dikutip dari Beliau adalah pemilik majlis taklim yang bernama Kanzus Sholawat di dekat ndalem beliau di Pekalongan. Selain itu, beliau merupakan ketua umum di organisasi Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabarah al-Nahdliyyah JATMAN. Abah Anom Abah Anom merupakan pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya. Selain itu, beliau merupakan mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang berpusat di Tasikmalaya. Sebagaimana diliris dari Abah Anom memiliki nama asli A. Shohibul Wafa Tajul Arifin. Beliau merupakan putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad. Beliau lahir pada 1 Januari 1915 di Ciawi, Tasikmalaya. Beliau wafat pada Selasa 6/9/2011 sebagaimana dikutip dari Ajengan Zezen Ajengan merupakan panggilan untuk ulama di Sunda. Ajengan Zezen yang memiliki nama lengkap Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab ini lahir pada 17 Februari 1955. Beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zainiyah Sukabumi. Selain itu, beliau merupakan Wakil Talkin TarekatQadiriyah Naqsyabandi. Sumber Instagram hamdan_ali26 22 Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di jombang sebagai guru Thoriqoh di Jawa B. Silsilah Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Pendiri serta Mursyid pertama Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yakni Syaikh Muhammad Khotib Ibn Abd al-Sambasi al-Jawi yang mempunyai murid sampai hampir seluruh Nusantara. Seperti yang terkenal Syaikh Abd. Karim al-Bantani, Syaikh Ahmad Thalhah al-Cireboni, dan Syaikh Ahmad Hasbullah al-Maduri. Tetapi khalifah yang lainnya meliputi Syaikh Muhammad Isma’il ibn Abd Rachim dari Bali, Syaikh Yasin dari Kedah Malaysia, Syaikh Haji Ahmad Lampung dari Sumatra Selatan, dan Syaikh Muhammad Ma’ruf ibn Abdullah al-Khatib dari Palembang. Murid-murid Syaikh Khotib Sambas tidak hanya menuntut ilmu tetapi juga menyebarkan ilmu tersebut, berupa menyebarkan ajaran tasawuf dan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sampai keseluruh Nusantara. Dan penyebaran ke Jawa telah terbagi-bagi kebeberapa khalifah Seperti cuplikan silsilah Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang dimulai dari Allah SWT melalui malaikat Jibril yang sampai pada sanad Thoriqoh Qodiriyah, antara lain Muhammad SAW Ali ibn Abi Thalib 28 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta LP3ES, Februari 1994, 79-80. 23 Husain ibn Ali Zain Al- Abidin Muhammad Al-Baqir Ja’far Al- Shadiq Musa Al-Kazhim Abu – Hasan Ali ibn Musa Al – Ridha Ma’ruf Al – Karkhi Sari Al – Saqati Abul – Qosim Junaid Al – Baghdadi Abu Bakr Al – Syibli Abd Al – Wahid Al – Tamimi Abd Al – Faraj Al – Tartusi Abu Hasan Ali Hakkari Abu Sa’id Makhzumi Abd Al – Qodir Al – Jailani Abd Al – Aziz 24 Syams Al – Din Syarif Al – Din Nur Al – Din Wali Al – Din Husam Al – Din Yahya Abu Bakr Abd Al – Rahim Utsman Abd Al – Fattahir Muhammad Murad Syams Al –Din Ahmad Khatib Al – Sambasi Begitu kemursyidan sanad dari Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dan guru dari Syaikh Ahmad Khotib Sambas. Tetapi tidak ditemukan secara jelas uraian silsilah yang terdapat pada Thoriqoh Naqsyabandiyah. Namun banyak diambil sanad ajaran dari Thoriqoh Qodiriyah yang sudah cukup termashyur. Khususnya tentang Muro>qabah yang sudah dikenal dan 25 digunakan oleh Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Sampai akhirnya tersebar kepada cabang Thoriqoh yang mandiri dan ingin mengolaborasi dengan sikap modernitas yang Setelah Syaikh Khotib Sambas Wafat sekitar pada tahun 1878 Masehi, kepemimpinan mursyid digantikan oleh muridnya yakni Syaikh Abdul Karim al-Banteni. Karena selain telah mendapatkan Ijazah baiat, juga Syaikh Khotib Sambas pernah menunjuk Syaikh Abd Karim al-Banteni sebagai Imam. Sehingga kepemimpinan Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah diterima dengan baik dan semakin berkembang pesat hampir keseluruh Indonesia. Selain itu Syaikh Ahmad Khotib Sambas juga memberikan ijazah baiat kepada kedua khalifah lainnya, diantaranya Syaikh Thalhah di Cirebon dan Kiai Haji Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura. Setelah itu keduanya melahirkan cabang Thoriqoh di Jawa dan sekitarnya. Tetapi setelah wafat Syaikh Abd Karim al-Banteni sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah tidak terpusatkan lagi. Melainkan terpecah kebeberapa cabang Perkembangan Thoriqoh tidak sampai setelah Syaikh Ahmad Khotib Sambas dan Syaikh Abdul Karim al-Banteni wafat. Karena tidak terpusat lagi, malah cabang Thoriqoh berkembang sangat pesat. Alasannya lagi, beberapa khalifah telah mendapatkan ijazah baiat dari Syaikh Ahmad Khotib 30 Martin Van Bruinessen, Thoriqoh Naqsyabandiyah Di Indonesia, terj. Hamid Algar, Bandung Mizan, Februari 1996, 90 – 91. 31 Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam Di 26 Sambas. Tanpa membantah sang guru, mereka menyebarkan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dicabang yang telah disebutkan Adapun Syaikh-syaikh lain yang dari Jawa yang telah menjadi Murid Syaikh Khotib Sambas, antaranya Hadrat Syaikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari dari Tebu Ireng Jombang, Kiai Manaf Abdul al-Karim dari Lirboyo Kediri, Kiai Muhammad Shiddiq dari Jember, Kiai Munawir dari Krapyak Yogjakarta, Kai Maksum dari Lasem Rembang, Kiai Abdullah Mubarak dari Suryalaya Tasikmalaya, Kiai Wahab Hasbullah dari Tambakberas Jombang, Kiai Bisri Syamsuri dari Denanyar Jombang, dan Kiai Bisri Mustofa. Selain itu Syaikh Cholil Bangkalan juga merupakan Murid dari khalifah Syaikh Abdul Karim al-Banteni, ketika menjadi mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah setelah Syaikh Ahmad Khotib Setelah beberapa kali Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah berkembang di Rejoso Peterongan Jombang, beberapa Kiai juga terus melanjutkan Ajaran dan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang dimulai ketika Kiai Haji Romly Tamim sebagai Mursyid Thoriqoh. Lalu kepemimpinan mursyid berganti karena sebab wafatnya seorang Mursyid. Yang perlu diketahui akhirnya bahwa setelah Kiai Haji Romly Tamim dilanjutkan kepada putranya yaitu Kiai Haji Musta’in Romly. Beberapa 32 Ibid,. 33 Sri Mulyati, Peran Edukasi Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah Dengan Referensi Utama 27 sebab terjadi dilema politik yang berlarut-larut dapat mengakibatkan Jama’ah Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah pecah karena masalah yang belum bisa diungkapkan antar Kiai. Ketika Kiai Haji Musta’in Romly wafat, kemursyidan dibagi menjadi tiga pada adik-adiknya dan salah satu ponakannya. Tetapi yang masyhur dan paling dikenal oleh para jama’ah dan masyarakat untuk menggantikan kemursyidan ialah Kiai Haji Dimyathi Romly sampai beberapa Sebagai berikut Tabel. Silsilah TQN Rejoso35 Begitu juga dengan penerus pusat Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Jawa Barat. Seperti pada pusat Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Suryalaya Tasikmalaya yang semakin memberikan perubahan atau inovasi bagi jama’ah dan masyarakat Suryalaya. Tetapi mengenai Thoriqoh yang asli, menurut para orientalis Thoriqoh Qodiriyah 34 Ibid, 59-60. 35 Wawancara Mursyid KH. Tamim Romly, pada tanggal 28 Juli 2019, pukul 0939. Syaikh Khotib Sambas Syaikh Abdul Karim al-banteni Syaikh Hasbullah Syaikh M. Kholil al-Juraimi Syaikh M. Romly Tamim Syaikh Musta’in Romly Syaikh M. Utsman Syaikh A. Rifa’i Romly Syaikh M. Shonhaji 28 wa Naqsyabandiyah Suryalaya yang masih terlestari dan tidak terpecah sampai sekarang. Padahal banyak Thoriqoh yang lain termasuk Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Rejoso Peterongan Jombang. Sehingga demikian beberapa silsilah Thoriqoh setelah Syaikh Khotib Sambas wafat, dan dipelihara oleh

mursyid thoriqoh yang masih hidup